Archive for March, 2008
From Zero to Hero
Biasa .. kamis malam selalu menyempatkan nonton di Metro TV acara Kick Andy atawa pas Ahad Sore nya (siaran ulang) wew.. tadi malam acaranya meng inspirasi sekali mulai dari Lulusan S-1, S-2 bahkan Ibu Susi yang “Jebolan SMA” alias ndak lulus SMA cuma ngenyam sampe Kelas 2 SMU, bisa menjadi seorang Enterpreneur :d seorang pengusaha :d
Inti dari acara talk show ini adalah “Pelayanan Yang Prima Terhadap Konsumen” hehe.. yap ini modal kalau jualan jasa atau barang kepuasan konsumen yang di utamakan .. malah orang Yogya tuh ada yang Jualan Singkong (Tela Tela) Omzetnya 2M perbulan … bukan isapan jempol dan bukan waktunya mengkhayal … tapi ikuti jerih payah dan perjuangan para Pengusaha Muda ini dalam “Peperangan” yang sesungguhnya, dimana peperangan ini TIDAK DIPELAJARI DIBANGKU SEKOLAH … so …
PELAJARI .. ilmu ini dari experience .. dari pengalaman … dan tiap orang pengalamannya pasti beda2 dan hasilnya pasti beda2 pula …
Kalo bisa 4 kenapa harus 1
Membaca Artikel di salah satu website yang selalu memberikan inspirasi ditengah krisis yang berkepanjangan di Negeri Yang Kaya Raya ini … terbersit untuk berusaha menjadi apa yang disebutkan artikel itu … Kalo bisa 4 kenapa harus 1
Berikut kutipan artikelnya ……
Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok pasca kenaikan harga BBM nampaknya sudah bukan hal yang aneh lagi. Bahkan sebelum harga BBM resmi naik, harga-harga sudah mulai naik mendahului. Tentu saja hal ini membawa konsekuensi yang tidak sedikit pada anggaran rumah tangga setiap orang. Otomatis pengeluaran akan bertambah, sementara penghasilan….? nampaknya diam di tempat tak bergerak.
Lalu bagaimana mengatasinya? Dalam keadaan defisit, selalu ada dua jalan keluar. Cara pertama yaitu dengan mengurangi pengeluaran atau melakukan penghematan, dan cara kedua yaitu dengan menambah penghasilannya. Atau jika keduanya dilakukan sekaligus akan lebih baik lagi.
Berhemat adalah cara yang cukup efektif dalam jangka pendek. Tapi hemat juga ada batasnya, lagipula kenaikan harga ini sepertinya bukan cuma sekali. Maka solusi untuk jangka panjang lebih tepat adalah dengan menambah penghasilan agar tidak lebih besar pasak dari pada tiang.
Menambah penghasilan bukan cuma berarti meminta kenaikan gaji pada atasan, atau mencari pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Itu memang bisa dilakukan, tapi tidak selalu berhasil pada setiap orang. Kalau menambah penghasilan dari sumber yang sudah ada sekarang dirasa sulit, maka mau tidak mau Anda harus mencari sumber pemasukan yang lain sebagai tambahan.
Pada dasarnya, ada banyak sumber untuk mendapatkan penghasilan. Dan yang paling populer sekarang ini adalah dengan membagi sumber pemasukan menjadi 4 kelompok. Yaitu sumber pemasukan yang berasal dari bekerja sebagai Karyawan, menjadi Pekerja Mandiri, Pemilik Usaha, atau sebagai Investor. Biasanya sumber pemasukan ini dibagi kedalam kuadran (bidang empat) dan populer dengan sebutan cash flow quadrant.
- Bekerja Sebagai Karyawan
Ini adalah sumber penghasilan yang paling populer dan banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita. Yaitu dengan menjadi karyawan yang bekerja baik itu di pabrik, perusahaan, pemerintah, maupun usaha kecil. Seorang karyawan mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya berupa gaji yang jumlahnya tetap dan pasti. Inilah yang bagi sebagian orang menjadi faktor utama dipilihnya jalur menjadi karyawan sebagai sumber penghasilan. Selain itu, dengan menjadi karyawan juga bisa mendapatkan keamanan dan jaminan masa depan. Misalnya dengan adanya jaminan tunjangan asuransi kesehatan dan pensiun. Biasanya seorang karyawan memiliki jam kerja yang tetap setiap hari, kecuali untuk karyawan pabrik yang punya jadwal shift. Sehingga sulit rasanya untuk bisa menjadikan karyawan sebagai penghasilan tambahan jika sekarang ini sudah bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain. Tapi kalau sekarang Anda bukan karyawan, maka tidak ada salahnya untuk menjadi karyawan sebagai side job Anda dan mendapatkan penghasilan tambahan berupa gaji bulanan. - Pekerja Mandiri
Tidak semua orang bisa menjadi pekerja mandiri. Karena ada satu syarat mutlak untuk menjadi pekerja mandiri, yaitu keahlian khusus. Karena menjadi pekerja mandiri adalah menjual keahlian Anda pada orang lain secara freelance. Contoh dari pekerja mandiri adalah seorang dokter yang membuka praktek di rumahnya, pengacara yang menerima tugas mendampingi kliennya, seorang tukang jahit atau katering yang menerima pesanan konsumennya. Seorang pekerja mandiri tidak mendapatkan gaji bulanan seperti halnya karyawan, melainkan mendapatkan honor atau fee langsung dari konsumennya atas jasa yang dilakukannya. Jika Anda memiliki keahlian khusus yang bisa diandalkan, maka menjadi pekerja mandiri nampaknya bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan. Mungkin selain bekerja sebagai karyawan sekarang ini, Anda bisa juga tetap menerima pesanan kue atau jahitan di luar jam kantor. Atau mungkin menerima panggilan reparasi alat elektronik di malam hari atau hari libur sehingga tidak mengganggu pekerjaan utama. - Pemilik Usaha
Kalau karyawan adalah profesi yang paling populer dan banyak dilakukan orang, maka menjadi pemilik usaha adalah profesi yang paling banyak diinginkan orang, apapun profesinya sekarang. Percaya atau tidak, sebuah survey pernah membuktikan bahwa mayoritas responden mengatakan ingin menjadi pengusaha walaupun mereka pada saat itu kebanyakan bekerja sebagai karyawan swasta atau PNS. Yang dimaksud dengan menjadi pemilik usaha adalah mengandalkan pemasukan terutama dari hasil usaha berupa prive atau deviden, bukan dari gaji bulanan. Kalau Anda sekarang masih menjadi pimpinan di perusahaan Anda sendiri dan menerima gaji rutin setiap bulan, itu artinya Anda masih bisa dikatakan sebagai karyawan. Walaupun Anda pemilik usaha tersebut, tapi penghasilan Anda bukan sebagai pemilik usaha melainkan sebagai karyawan. Pemilik usaha yang saya maksud disini adalah seseorang yang sumber penghasilannya dari usaha yang ia miliki, bukan dari pekerjaan yang ia lakukan. Biasanya, pemilik usaha bisa memiliki banyak waktu luang karena ia hanya perlu mengontorol usahanya sewaktu-waktu saja. Ia masih punya banyak waktu luang untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara lain seperti bekerja sebagai karyawan di tempat lain atau menjual keahlian yang dimilikinya. Atau kalau Anda sekarang ini sebagai karyawan dan kebingungan bagaimana caranya mengembangkan dana yang dimiliki sedangkan perbankan tidak bisa menjanjikan hasil yang optimal. Bisa saja Anda membuka warung atau memodali seseorang untuk membuka usaha, lalu Anda tinggal mengontrol dan menikmati keuntungannya saja. Membuka lapangan kerja sekaligus menambah penghasilan keluarga. Dan yang populer juga sekarang ini adalah dengan usaha pemasaran langsung atau MLM, walaupun tidak membuka lapangan kerja baru, tapi bisa menambah penghasilan yang cukup lumayan. - Investor
Ketiga sumber pemasukan di awal tadi membutuhkan banyak aktivitas fisik. Karyawan “menjual” jam kerjanya dengan gaji bulanan, begitu juga pekerja mandiri yang walaupun lebih fleksibel namun tetap saja mengandalkan aktivitas fisik untuk mendapat penghasilannya. Sedangkan pemilik usaha biasanya juga harus bekerja dulu di awalnya sebelum bisa menyerahkan pengelolaan usahanya pada orang lain. Tapi investor beda, investor lebih banyak mengandalkan kekuatan modal dan strategi dalam mengelola dan mengembangkan dana yang dimilikinya. Investor mendapatkan penghasilan tidak dari gaji bulanan, klien yang menyewa jasanya, atau konsumen yang membeli dagangannya. Ia mendapatkan penghasilan dari mengembangkan dana yang dimilikinya baik itu berupa bunga, bagi hasil, capital gain dan sebagainya. Investasi adalah sumber penghasilan tambahan yang bisa dilakukan siapa saja selama ada uang di tangannya. Karena berinevstasi tidak menyita banyak waktu dan bisa dilakukan sambil bekerja. Sementara masalah keahlian mengatur strategi bisa dikerjakan oleh sang ahli yang dibayar berdasarkan keuntungan yang didapat atau berdasarkan aset yang dikelola.
Tapi pertanyaannya sekarang adalah, bisakah seseorang memiliki keempat sumber penghasilan ini sekaligus? Jawabnya, kenapa tidak? Sebagai seorang karyawan yang saat ini mengandalkan gaji bulanan, Anda bisa saja menjual keahlian yang dimiliki di luar jam kantor, dan menyisihkan sebagian penghasilan Anda selama ini untuk membuka usaha dan berinvestasi. Dengan cara ini Anda bisa memiliki 4 sumber penghasilan sekaligus.
Keahlian apa yang bisa Anda jual, usaha apa yang cocok untuk Anda, dimana investasi yang menguntungkan. Itu urusan belakangan. Yang penting sekarang adalah jangan menutup diri Anda terhadap kemungkinan memiliki berbagai sumber penghasilan (multi source of income).
Jangan lekas puas dan berhenti berusaha hanya karena sudah bisa bekerja sementara masih banyak orang yang menganggur, karena bekerja bukan jaminan bisa mencukupi kebutuhan hidup. Jangan juga lekas puas dan berhenti berusaha hanya karena sudah bisa memiliki usaha yang tidak banyak orang bisa melakukannya, karena usaha terkadang bisa naik dan sebaliknya juga bisa turun. Dan jangan pula lekas puas hanya karena punya investasi dimana-mana, karena tak selamanya investasi itu aman dan menguntungkan.
Namun milikilah sebanyak-banyaknya sumber penghasilan. Karena kalau yang satu turun, masih bisa mengandalkan yang lainnya. Kalau yang satu gagal, masih ada cadangan untuk menutupinya. Kalau bisa memiliki empat sumber penghasilan sekaligus, kenapa cuma punya satu?
Mas, Kok Tidak Shalat Berjamaah?
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf
Sumber: Buletin AtTauhid
Sebagian besar masjid masjid kaum muslimin saat ini kita lihat kosong dari jamaah. Pemandangan ini hampir merata kita temui di setiap tempat, baik di desa maupun di kota. Inilah buah dari kurang pahamnya mereka dalam ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum shalat berjamaah. Sehingga bila kita tanyakan kepada seseorang, “Mengapa tidak shalat di masjid, kok malah shalat di rumah?”, boleh jadi ia menjawab, “Ah, itu kan cuma sunnah saja…”, Subhanallah!!, semoga Allah memahamkan kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.
Apa Hukum Shalat Berjamaah?
Ketahuilah, bahwa pendapat yang benar dalam masalah ini ialah shalat berjamaah itu wajib (bagi laki laki, adapun bagi kaum wanita, shalat di rumah lebih baik daripada shalat di masjid walaupun secara berjamaah). Inilah pendapat yang disokong oleh dalil dalil yang kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta para imam mazhab (Kitabus Sholat karya Ibnul Qayyim).
Perintah Allah ta’ala Untuk Shalat Berjamaah dan Ancaman Nabi Yang Sangat Keras
Bagi Yang Meninggalkannya
Allah ta‘ala berfirman, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orangorang
yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah).” (QS. AlBaqarah: 43).
Perhatikanlah
wahai saudaraku, konteks kalimat dalam ayat ini adalah perintah, dan hukum asal
perintah adalah wajib. Rasulullah telah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku yang ada ditanganNya, ingin kiranya aku memerintahkan orangorang untuk mengumpulkan kayu bakar,
kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orangorang yang tidak mengikuti shalat jamaah, kemudian aku bakar rumah rumah mereka.” (HR. Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan wajibnya (fardhu ain) shalat berjamaah, karena jika sekedar sunnah niscaya beliau tidak sampai mengancam orang yang meninggalkannya dengan membakar rumah. Rasulullah tidak mungkin menjatuhkan hukuman semacam ini pada orang yang meninggalkan fardhu kifayah, karena sudah ada orang yang melaksanakannya. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjamaah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu telah beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia menjawab, “Ya”, Rasulullah bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.” (HR. Muslim). Perhatikanlah, jika untuk orang buta saja yang tidak memiliki penunjuk jalan itu tidak ada rukhsoh baginya.” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah).
Hanya Munafik Saja Yang Sengaja Meninggalkan Sholat Jama’ah
Sahabat besar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata tentang orang orang yang tidak hadir dalam shalat jamaah: “Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan shalat berjamaah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit”. Lalu bagaimana seandainya Ibnu Mas’ud hidup di zaman kita sekarang ini, apa yang akan beliau katakan???
(Disarikan dari terjemah kitab Sholatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha karya Dr. Sholih bin
Ghonim AsSadlan)
Artikel www.muslim.or.id
Artikel boleh disebarluaskan dengan syarat menyertakan sumbernya 2
(keringanan) baginya, maka untuk orang yang normal lebih tidak ada rukhsoh lagi
MDI/MDX Support
Pusing berkeliling keliling masalah sama MDI/MDX Support pada LAN Card … lieur error wae, beberapa hari ini sedang coba instalasi Server dengan mode Bridge dimana LAN Card yang terpasang dan “pusing-nya” banjir di pasaran adalah LAN Card berchipset RTL8139 baik merk compex, Dlink dll… hiks padahal nih LAN CArd ndak support MDI/MDX alias suka error2 kalo di cross kabel UTP dengan PC lain … akhir nya nemu URL nya seperti dibawah …. :(( beli Intel atau 3Com weks .. harganya 1 LAN Card 3Com bisa beli 10 biji LAN Card Merk Dlink/ Compex
Auto MDI / MDX – Medium Dependent Interface / Medium Dependent Interface Crossed
The Auto MDI/MDX is a port on the Sarian used to connect to other hubs or switches, or to end stations. The Auto MDI/MDX port can sense whether the cable plugged in is a straight-through cable (used to connect to other hubs or switches), in which case it automatically switches to MDI mode, or a crossover cable (used to connect the Sarian to an end-station), in which case it automatically switches to MDX mode. All 10/100BaseT ports used on Sarian Routers are Auto MDI/MDX