WAJAHNYA berkerut ketika ditanya pendidikan anaknya. Hanya keluar desahan nafas panjang. “Udah pernah sekolah juga udah untung Neng,” katanya lirih. Bi Oon–demikian ia biasa dipanggil oleh orang-orang di kampungnya– hanya tersenyum getir menceritakan beban berat hidupnya. Usianya belum 50 tahun, guratan-guratan tua jelas terlihat di mukanya. Sejak suaminya meninggal 12 tahun lalu, ia mengambil alih semua urusan keluarga.
Dulu suaminya hanya seorang tukang becak. Tidak banyak yang ditinggalkan suaminya. Hanya sepetak rumah mungil di Jalan Sadang, Sayati, Kab. Bandung, dan empat buah hatinya. Dengan penghasilan sebagai pembantu rumah tangga, Bi Oon menghidupi keempat anaknya. “Sekitar dua ratus ribuan lah sebulannya. Lumayan buat makan mah Neng,” katanya. Anak pertamanya, Lilis (25) hanya menamatkan sekolah hingga SD. Kini, Lilis telah berkeluarga dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mungkin, Lilis lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya, Siti (22) yang hanya bisa bersekolah hingga kelas IV SD. “Enggak punya uang. Jadi ya enggak dilanjutkan,” kata Bi Oon. Kini Siti bekerja di sebuah pabrik sepatu.
Saat anak ketiganya, Iis (kini 14 tahun) lahir, kehidupan Bi Oon dan suaminya belum banyak berubah. Beruntung, Iis bisa bersekolah berkat bantuan dari donatur. Meskipun hanya sampai kelas VI SD, Iis merasa senang bisa mengecap pendidikan. Ia juga diberikan bantuan ikut les keterampilan menjahit.
Sementara itu, anak keempatnya, Ayi (12) seharusnya sedang mempersiapkan diri untuk ujian nasional (UN) SD. Namun, sejak beberapa bulan lalu, Ayi sudah tidak bisa menikmati bangku sekolah.
Bi Oon yang kini bekerja sebagi tukang urut merasa tidak sanggup lagi membiayai sekolah anak bungsunya itu. Meskipun sudah dibebaskan dari biaya sekolah, bahkan gurunya sampai menyusul ke rumahnya, Bi Oon tetap pada pendiriannya untuk tidak melanjutkan pendidikan si bungsu. “Biar udah gratis sekolahnya, tapi biaya sehari-hari tetep ada Neng. ,” kata Bi Oon. Penghasilannya sebagai tukang urut memang tidak pasti. Sekali urut, Bi Oon biasanya dapat Rp 20.000,00.
Ayi adalah salah seorang dari sekian banyak anak di Indonesia yang memimpikan sekolah. Di kawasan Bandung, wilayah terdekat ke pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, ribuan anak usia sekolah tidak bisa menikmati pendidikan karena keterbatasan ekonomi.
Sebut saja Ani Rosasi, anak seorang buruh di Kampung Pagersari, Desa Pagerwangi, Kec. Lembang, Kab. Bandung. Meski berkeinginan besar untuk menyekolahkan Ani, sang ayah Ade Karna tidak mampu memberikan biaya karena berpenghasilan tidak tetap.
Meski lebih beruntung, pendidikan Barkah Priyana (17) dan Desi Lestari (16) juga nyaristerhenti karena terbentur masalah biaya. Keduanya masih duduk di kelas tiga SMP Al Falah Kota Bandung. Padahal, berdasarkan usia mereka seharusnya sudah memasuki jenjang SMA. Meski mendapat bantuan dana pendidikan, Barkah dan Desi juga sempat tidak bisa meneruskan sekolah karena tidak ada biaya untuk ongkos sehari-hari dari rumah masing-masing ke sekolah. Namun satu hal yang perlu dicontoh, Barkah dan Desi mendapat bantuan dana untuk ongkos dari guru-guru mereka. Suatu tindakan terpuji dari seorang guru yang ingin anak didik mereka terus maju meski di tengah kesulitan ekonomi.
Biaya pendidikan saat ini tidak lagi ramah pada masyarakat, apalagi bagi mereka yang berada di garis kemiskinan. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum menuntaskan masalah. Kalaupun biaya sekolahnya gratis, mereka masih harus memikirkan biaya sehari-harinya. Untuk beli seragam, alat tulis, sepatu, dan ongkos ke sekolah. Itu semua perlu biaya. “Lebih baik uangnya buat beli beras,” kata mereka lirih. (Fitri /Handri)***
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=21004

If you want edit me? just go to your profile than add description text as many you like. ^_*